Akhir-akhir ini saya menambah kegiatan baru dalam kehidupan saya yaitu memasak. Kali ini memasak saya tidak hanya memasak air, dan mie instan dimana tingkatan saya kalau memasak itu sudah mahir :). Sebetulnya ada ketakutan dalam diri saya untuk memasak yang sampai saat ini kadang masih terasa, yaitu takut jari saya teriris pisau. Berawal ketika waktu masih SD setelah pulang sekolah saya melihat ibu yang sedang mengiris bawang merah tanpa sengaja tangannya ikut teriris sampai mengeluarkan darah erghh. Di lain hari saya kembali melihat ibu saat sedang memarut kelapa di sebuah papan yang bergerigi. jari tangan-tangan ibu ikut terparut sampai membuat bekas seperti garis berwarna merah.

Tapi semenjak pengalaman lebaran kemarin, ketika pembantu yang biasa memasak di rumah ijin pulang kampung selama dua minggu segala hal mengenai urusan menyediakan makanan menjadi repot. Saya harus membeli makanan ke warung untuk 3 orang dan 3 kali makan paling tidak menghabiskan uang Rp20.000,- dalam sehari, itupun lauknya hanya satu lauk utama dan satu lauk tambahan. Bandingkan dengan ketika saya minta tolong ke saudara untuk membantu memasakkan untuk 3 orang selama 8 hari hanya menghabiskan Rp120.000,-, jadi sehari sekitar Rp15.000,00. Lauknya pun itu sudah bermacam-macam bisa ada daging ayam, lele dan udang. Hal ini, akhirnya semakin menguatkan saya untuk belajar memasak. Selain menjadi lebih sehat karena tahu proses pembuatannya ternyata bisa lebih hemat.

Dimulai ketika ibu datang ke Semarang di lebaran Agustus lalu, saya mencoba membantu ibu memasak. Ibu kemudian memberi saya tugas untuk mengupas kentang. Sebelumnya ibu memberikan contoh bagaimana mengupas kentang yang benar, yaitu jangan terlalu tebal karena nanti dagingnya ikut terbawa. Oke eksperimen mengupas kentang dimulai. Kentang pertama, dan kedua saya kupas kemudian saya perlihatkan ke ibu hasil kupasan saya tadi ternyata masih terlalu tebal. Sambil menunjukkan perbandingan hasil kupasan kentang beliau dengan saya yang hasilnya adalah beda jauh, ya sangat jauh. Kentang saya ukurannya lebih kecil daripada hasil kupasan ibu.

Di lain waktu saya belajar membuat omelet jamur. Jamur yang saya gunakan adalah jamur kuping yang saya beli di DP Mall seharga Rp7.100,- ukuran gelas plastik air mineral. Jamur kuping bentuknya pipih, lebar, berwarna gelap, agak kehitam-hitaman dan coklat. Bumbu yang saya pakai ada bawang putih, lada, dan garam kemudian saya tumis. Jamur yang telah saya bersihkan menggunakan air panas saya masukkan ke penggorengan, setelah itu baru telur yang telah dikocok. Setelah matang saya mencoba mencicipinya, hasilnya adalah masih terlalu asin dan terasa lada yang tidak tergerus rata. Percobaan saya memasak omelet jamur, GAGAL!!

Memasak ternyata tidak segampang yang saya kira. Memasak itu tidak secepat ketika kita menghabiskannya di atas piring yang hanya dalam hitungan menit. Sekarang saya semakin menghargai orang-orang yang ada dibalik masakan yang disajikan di hadapan saya. Salah satu yang saya lakukan adalah saya selalu menghabiskan makanan yang tersaji di atas piring saya yang masih layak.

Iklan