Minggu pagi itu udaranya sangat segar sekali. Dinginnya masih terasa yang sempat membuat bulu kuduk saya berdiri tegak, bukan karena adanya makhluk dari dunia lain di dekat saya ya. Jam di dinding kamar yang berbentuk kotak dan berwarna coklat kayu sudah menunjukkan pukul 05.30 wib. Hari ini saya niatkan untuk hadir di gowes bareng di CFD Pahlawan bersama kawan-kawan Koskas (Komunitas Sepeda Kaskus) Semarang. Terakhir kali berkumpul bulan Juli sebelum memasuki bulan ramadhan, yang ada agenda gowes ke Kudus. Pengalaman yang tidak akan terlupakan, itu pertama kalinya saya bersepeda selama 4 jam, tentunya belum dipotong waktu istirahat hehe..

Jam 06.00 wib saya sampai di tempat kumpul Koskas Semarang yaitu di depan kantor Telkom Pahlawan. Di situ ada Prasetyo Agus, Andhika Henry, Aminullah Ruhul Aflah, Avincenna Sibghoturrofi, Angga Pramudya dan beberapa kawan yang sudah sampai dulu. Suasana CFD kali ini terlihat sepi, banyak ruang kosong yang kalau dipakai buat balap ngicik bisa lah hehe.. . Masih enak-enaknya ngobrol ada seorang petugas bersepeda menggunakan seragam olahraga dan membawa megacot (speaker portable –red) menghimbau kami semua untuk tidak memarkir sepedanya di atas pedestrian. Sambil memindahkan sepeda kembali ke jalan kami akhirnya memutuskan untuk segera jalan menuju ke CFD Pemuda.

Di CFD Pemuda ternyata suasananya jauh lebih sepi dibandingkan dengan suasana di CFD Pahlawan. Kenapa bisa begitu ya? Apakah karena masih belum pada bangun, sebab cuacanya masih dingin dan langit di atas kota Semarang mendung tertutup awan. Di CFD Pemuda ini saya menemukan ada beberapa gambar wajah orang dan ada tulisan komunitas kartun Semarang. Dua orang dari komunitas tersebut sedang sibuk menggoreskan pensilnya di kertas ukuran A3 dengan objek orang dihadapannya. Di tempat ini kami tidak dapat menemukan hal menarik lagi, apalagi untuk cuci mata hehe..

Sebelum kita melanjutkan perjalanan ke Pamularsih, salah satu kawan datang menyusul ke Pemuda yaitu si Robin Ardriyunan. Sekitar 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke Pamularsih. Sesampainya di lampu merah kalibanteng ternyata ada beberapa kawan yang tertinggal. Sambil menunggu kawan yang tertinggal tadi, muncul usulan kalau gowes ke Kendal. Ide ini muncul dari Avincenna Sibghoturrofi , entah bagaimana bisa muncul ide tersebut yang nantinya akan membuat salah satu kawan dalam rombongan mendapatkan banyak “sesuatu” di perjalanannya. Mumpung cuaca yang sangat mendukung, luas awan mendung yang menyelimuti kota Semarang kelihatannya merata sampai ke batas mata dapat memandang ke arah barat kota Kendal.

Tanpa banyak komentar kawan-kawan menyetujui usulan tersebut, hanya Mario yang tidak bisa ikut. Sedangkan kawan yang tadi tertinggal memberi kabar kalau sedang sarapan. Kita akhirnya segera berangkat sambil berpisah arah sama Mario. Bagi saya dan beberapa kawan ini adalah perjalanan pertama kali gowes ke luar kota yang ke arah barat. Setelah melewati bunderan Kalibanteng kita langsung mendapat kawan seperjalanan baru yang mempunyai jumlah roda mulai dari 6 sampai 14 roda dimana tingginya mencapai stang sepeda kita, lalu mengeluarkan asap knalpot hitam yang pekat. Inilah Pantura gan!!

Satu Lapis
Satu Lapis
Mampir di bengkel terdekat

Perjalanan gowes kita ke barat banyak mengalami tantangan seperti truk-truk besar yang tidak sabar ketika menyalip menggunakan lajur kiri, mereka tetap memepet kita hingga kita terpaksa keluar dari jalan aspal. Lalu, kendaraan umum yang berhenti secara tiba-tiba di depan kita ketika mereka akan menaikkan atau menurunkan penumpang, apabila kita tidak siap bisa menabraknya. Sesampainya di terminal bus Mangkang ada dua arah jalan apakah akan lewat kota atau jalan lingkar, kita akhirnya memilih lewat kota saja. Saat kita memasuki ibu kota kecamatan Kaliwungu suasananya sudah mulai ramai dengan aktivitasnya masing-masing, tapi masih belum terlalu padat. Sebelum perlintasan kereta api Kaliwungu kita melihat di sisi kiri jalan ada toko sepeda yang sudah ramai. Kita belok ke toko sepeda itu untuk mencari pedal sepeda Robin, siapa tahu ada.

Depan pasar Mangkang. Banyak Angkot berhenti

Setelah tanya-tanya ternyata sudah habis, namun tadi salah satu kawan melihat sebelum toko sepeda ini juga ada toko sepeda lagi yang letaknya tidak jauh. Oke, kita putar balik ke toko sepeda kedua itu, ternyata jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 50 meter dari toko sepeda pertama tadi. Menurut saya toko sepeda kedua ini lebih tepatnya disebut dengan bengkel sepeda, sebab saya tidak melihat jejeran sepeda baru yang dipajang. Tapi dari bengkel sepeda inilah, kita mendapatkan apa yang kita cari dari tadi, yaitu pedal sepeda. Akhirnya kita dapat melanjutkan perjalanan kita dengan lebih nyaman dan lebih cepat. Kota Kendal sudah tidak jauh, sekitar 15-20 menit lagi kita sampai di gapura selamat datang. Lagi-lagi saya tertinggal dari rombongan yang melaju lebih cepat, tapi hanya sebentar karena kemudian mereka tertahan karena ada truk kecil yang berjalan lambat di kondisi jalan yang hanya mempunyai satu lajur di masing-masing jalur.

Bengkel sepeda di Kaliwungu

Gapura selamat datang di kota Kendal mulai terlihat dari kejauhan yang sedikit tertutup oleh jembatan yang posisinya sedikit lebih tinggi dari jalan. Di depan gapura selamat datang kita menyempatkan untuk berfoto sebagai  bukti kalau kita telah sampai di Kendal. Kerenn banget akhirnya bisa sampai di Kendal masgan :). Jam di hape saya menunjukkan jam 09.30 wib jadi sekitar satu jam perjalanan yang dibutuhkan dari Semarang menuju Kendal ditambah tadi sempat mampir ke bengkel-bengkel. Perjalanan kita lanjutkan lagi menuju ke alun-alun Kendal sekalian mencari sarapan. Sebelum mencapai alun-alun kita mendapatkan “sesuatu” lagi nih dari sepedanya Robin, yaitu rantainya lepas gan, hadeh.

Foto di depan Gapura masuk kota Kendal

Suasana kota Kendal di hari Minggu terlihat sepi, yang sedikit terlihat ada keramaian hanya di dekat pasar Kendal yang sekitarnya penuh dengan ruko-ruko. Alun-alun yang tadi kita cari ketika sampai di gapura selamat datang akhirnya telah kita temukan, tapi kok kecil ya. Yup sangat kecil, bila dibandingkan dengan ukuran lapangan sepakbola itu hanya 3/4 dari 1/2 –nya lapangan sepakbola. Karena kita tidak ada yang mengenal kota Kendal lalu kita berhenti sebentar untuk berdiskusi mencari makanan. Kita lalu masuk ke jalan Laut, arahnya yaitu belok kiri antara masjid Agung Kendal dengan gedung olahraga. Perut yang dari tadi memberi sinyal kuat untuk segera diisi semakin bertambah kuat. Di sisi kanan jalan terlihat rumah makan yang berwarna hijau namanya Rumah Makan Bu Hj. Subagiyo, kita memutuskan untuk makan disana, asikk.

Laper masgan 🙂
foto setelah kenyang 😮

Setelah makan dan ngobrol sebentar dengan salah satu anggota Satpol PP kabupaten Kendal yang menceritakan saudaranya baru saja membeli fork seharga 9 juta, kita melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang. Kali ini cuaca perjalanan pulang sudah semakin panas, awan mendungnya sudah menghilang dan lalu lintas semakin ramai. Ketika kita sampai di depan pabrik Texmaco Kaliwungu Robin mengalami kram di bagian paha sebelah kanan dan beberapa kawan mengalami sudukan (perut sakit setelah makan).

Kram!!

Di Indomaret dekat terminal Mangkang kita beristirahat kembali karena beberapa anggota gowes ke Kendal mengalami kram dan sudukan lagi. Kondisi jalan dari terminal Mangkang menuju kota Semarang cukup banyak yang menurun sehingga membuat kita tidak terlalu bekerja keras menggowesnya. Tiba-tiba ketika sampai di jalan depan puskesmas Tambak Aji yang sedang menurun RD belakang sepeda Robin lepas, kemudian masuk ke ruji roda belakang membuat beberapa rujinya patah serta membuat peleknya bengkok. Robin kaget!! tapi untungnya dia masih mampu mengendalikan sepedanya agar tidak jatuh yang dapat lebih membahayakan keselamatannya.

RD sampai bengkok

Kerusakan yang ditimbulkan cukup parah dimana roda sampai tidak dapat berputar kembali. Kita memutuskan untuk membawa sepeda Robin ke rumah Pras di Graha Padma dengan menggunakan mobil Pras yang akan pulang terlebih dahulu. Di rumah Pras kita disajikan beberapa gorengan dan air putih dingin sambil mengganti roda belakang sepeda Robin. Kebetulan Pras mempunyai roda belakang yang tidak terpakai namun masih bisa digunakan tinggal menambah angin saja.

Ganti ban
Ganti ban

Tak terasa hari sudah semakin sore, sudah sekitar 2 jam kita berada di rumah Pras dan sepeda Robin sudah bisa berjalan kembali walaupun rantainya kurang cocok karena terlalu panjang. Saya sampai rumah jam 16.30 wib dan kawan-kawan yang rumahnya di Tembalang dan Tlogosari baru sampai setengah jam kemudian. Terima kasih kepada brothers Prasetyo Agus, Andhika Henry, Robin Ardriyunan, Aminullah Ruhul Aflah, Avincenna Sibghoturrofi, dan Angga Pramudya yang telah bareng-bareng berpetualang gowes ke Kendal. Kalian hebat brothers 🙂

bantu dorong

Photo by: Andhika Henry

Iklan