Tag

, , , ,

Kantong darah (garutnews.com)

Ada satu pertanyaan saya selama ini yang belum terjawab mengenai harga darah, pertanyaan itu adalah “Mengapa kalau orang yang mendapatkan donor darah kita harus membayar? Biaya itu muncul karena apa saja sih?”. Namun pertanyaan itu akhirnya terjawab setelah saya menyimak kicauan @justsilly yang lebih dikenal sebagai Valencia Mieke Randa. Beliau merupakan seorang aktivis kemanusiaan, yang berkonsentrasi di bidang donor darah.

Biasanya harga darah yang ditarik oleh PMI berkisar antara Rp250.000,- s/d Rp500.000,-. Biaya itu disebut sebagai Biaya Penggantian Pengelolaan Darah (BPPD). Beberapa komponen yang menciptakan BPPD antara lain:

1. Kantong darah
Indonesia masih belum bisa memproduksi sendiri kantong darah, jadi selama ini kantong darah yang digunakan masih impor. Kantong darah ini mempunyai desain khusus agar darah didalam kantong tidak mudah beku dan tidak rusak. Hasil saya mencari di google, harga kantong darah berkisar Rp50.000,- per kantong.

2. Biaya cek kesehatan
Cek kesehatan ini meliputi pengecekan tekanan darah, kandungan hemoglobin, dan sebagainya.

3. Biaya pengecekan penyakit menular
Pengecekan ini dilakukan untuk setiap kantong darah, jadi tidak acak. Sesuai dengan keputusan WHO, penyakit yang dicek adalah HIV, Syphilis (rajasinga atau treponema), Hepatitis B, dan Hepatitis C. Apabila darah pendonor mengandung penyakit menular tersebut, maka sang pendonor akan dihubungi melalui surat pribadi dari PMI untuk datang ke kantor PMI. Jadi di dalam surat tersebut tidak disebutkan jenis penyakitnya, mereka akan diberitahukan jenis penyakitnya secara langsung oleh petugas PMI.

4. Biaya proses komponen darah
Darah yang didonorkan tidak berhenti berbentuk merah itu saja, melainkan masih diproses lagi. Darah yang diproses tadi bisa hanya di ambil sel darah merahnya saja, sel darah putih saja, faktor pembeku, trombosit, dan plasmanya saja. Proses tersebut disebut apheresis. Proses apheresis ini biaya mahal, sekitar Rp3.800.000,-. Itupun komponen darah hasil apheresis hanya bertahan selama 5 jam setelah proses.

5. Biaya uji kecocokan pendonor dan terdonor
Tujuannya untuk mengetahui apakah darah dari pendonor cocok dengan darah terdonor. Apabila tidak cocok bisa berbahaya.

6. Biaya operasional
Biaya ini seperti alat-alat, tenaga kerja, transportasi, dan sebagainya.

Jadi, itulah komponen biaya yang dibebankan kepada terdonor. Sebelumnya pemerintah daerah juga mensubsidi BPPD tersebut walaupun tidak seratus persen, tergantung kemampuan pemerintah daerah setempat.

Sumber gambar: http://garutnews.com/wp-content/uploads/2011/08/kantongdarah.jpg

Iklan