di depan kampus UKSW

Ada keinginan saya yang muncul sejak awal bulan Februari yaitu bersepeda ke luar kota ke arah selatan. Tahun lalu sudah ke arah timur (Kudus) dan ke barat (Kendal). Kondisi jalan ke kedua kota itu cenderung datar, saya ingin mencoba tantangan baru yang kondisi jalannya naik turun yaitu ke arah selatan. Setelah sempat terkendala oleh cuaca, fisik yang belum siap, dan bertabrakan dengan jadual kegiatan lain akhirnya hari Sabtu (25/2/2012) terlaksana juga rencana Tour de Salatiga. Dan apa yang saya bayangkan ternyata tidak semudah ketika saya menjalaninya.

Dimulai dengan perasaan was-was karena Sabtu subuh sekitar jam 04.00 wib hujan deras mengguyur Semarang yang menimbulkan bayangan gagal lagi deh rencana gowes ke Salatiga. Tapi ketika saya bangun jam 05.00 wib hujan sudah berhenti, hanya terdengar aliran air dari kali kecil yang turun deras di depan rumah. Kemudian saya melihat ke arah langit yang sudah mulai berwarna merah, awan gelap dan tebal yang biasa ada di saat hujan mulai terurai. Ini merupakan pertanda baik cuaca Sabtu pagi saat itu akan cerah walau ketika saya melihat langit lagi ke arah selatan awannya masih agak tebal berwarna hitam.

Saya tetap mempersiapkan diri untuk Tour de Salatiga, selain membawa bekal air satu setengah liter, dan uang, yang selalu menjadi kewajiban saya sebelum berolahraga adalah sarapan apalagi ini akan bersepeda jarak jauh. Dengan memakan makanan dari Jumat malam kemarin, paling tidak ada cukup energi untuk melakukan gowes ke Salatiga. Dari rencana keberangkatan jam 05.30 wib akhirnya saya jadi berangkat jam 06.00 wib karena untuk memberi waktu perut mengolah makanan yang saya makan tadi agar mencegah terjadinya sudukan.

Perjalanan selama 1 jam dari rumah hingga pemberhentian pertama saya di pom bensin Ungaran tidak menemui kendala apapun. Saat di tanjakan Watugong saya sempat ditemani truk tronton yang berjalan pelan karena jalanan menanjak dimana kecepatannya sama dengan kecepatan saya menggowes 🙂 Tantangan pertama yang baru saya rasakan yaitu ketika menemui tanjakan pom bensin Bandungan. Tanjakan ini tidak terlalu panjang tapi cukup berat, selain jalan aspalnya yang tidak rata semakin menyulitkan saya untuk menggowes ditanjakan dengan stabil. Sama seperti di tanjakan kedua di dekat Apac Inti yang apabila belok kanan akan menuju ke jalan alternatif Magelang, tapi tanjakan ini lebih panjang daripada tanjakan pom bensin Bandungan.

Sekitar jam 08.30 wib saya mencapai kebun kopi Banaran. Di kanan kiri jalan ada kebun kopi dan warung-warung kecil yang menjual air kelapa. Saya beristirahat di salah satu warung yang masih belum buka. Sambil menjulurkan kaki, saya memakan sebuah pisang yang saya beli di warung makan depan pabrik Coca Cola berharga Rp2.000,- sangat mahal kawan 😦 Sambil beristirahat pikiran saya kembali mengingat perjuangan kawan-kawan Komunitas Sepeda Kaskus (Koskas) Semarang yang minggu lalu gowes ke Banaran, jadi seperti ini ya rasa capeknya, fiuh.

Istirahat di Banaran

Cukup lama saya istirahat disini, hampir 20 menit. Perjalanan saya lanjutkan kembali melewati Tuntang. Di daerah ini tantangan yang saya hadapi adalah beradu cepat dengan truk dan antrian panjang dibelakangnya. Yup, karena jalanannya lebih sempit terdiri dari dua jalur dan agak menanjak membuat saya harus terus menggowes sepeda saya. Bila tidak akan membuat antrian panjang dibelakang saya semakin panjang, karena truk yang akan menyalip saya harus menunggu dulu dari arah berlawanan kosong dari kendaraan. Kecepatan sepeda yang selambat itu akan dengan mudahnya membuat antrian mobil di belakang truk itu semakin panjang hehe. Kaki yang saya pacu terus di jalanan Tuntang hampir membuat kaki saya kram, ouch.

Yiha, akhirnya sampai di pusat kota Salatiga. Sesuai rencana saya akan mengabadikan diri di salah satu ikon kota Salatiga yaitu di depan nama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) sebagai bukti telah berhasil gowes ke Salatiga. Saat sedang menata posisi untuk memfoto diri, datang seorang satpam UKSW menghampiri saya. Beliau menawarkan diri untuk memfoto saya, namanya pak Yuli, terima kasih pak 🙂 Sambil beristirahat saya mengobrol dengan Pak Yuli, beliau sudah bertugas sebagai satpam UKSW hampir 11 tahun. Dan di waktu senggangnya beliau bersepeda, jadi ngobrolnya tambah asik nih.

di kampus UKSW

Setengah jam lebih tak terasa mengobrol dengan pak Yuli, kemudian saya minta ijin untuk bersepeda ke dalam kampus UKSW. Suasana kampus UKSW di hari Sabtu ini ternyata masih ada aktivitas perkuliahan dan ramai sekali. Pohon-pohonnya besar dan banyak sehingga di dalam kampus terasa sejuk, selain itu di tengah kampus ada sebuah lapangan bola. Keluar dari UKSW saya mencari makanan yang terkenal di Salatiga yaitu nasi gudeg koyor bu Sukini. Info itu saya dapatkan dari seorang penjual pisang ketika saya membeli 4 buah pisang seharga Rp2.000,-. Nasi gudeg Koyor bu Sukini terletak di pasar sapi lama, yang mau ke arah Kopeng sebelah kiri jalan harganya Rp15.500,- sudah termasuk telur, kerupuk satu, dan minumnya hanya air putih 🙂

di dalam kampus UKSW

Jam 12.30 wib saya berkunjung ke rumah saudara di Salatiga, namun sayang jam 13.00 wib saudara saya mau datang ke resepsi. Jadi saya tidak bisa berlama-lama, salah saya juga karena tidak memberi kabar  terlebih dahulu. Akhirnya saya putuskan langsung balik ke Semarang.

Perjalanan pulang ini terasa lebih berat. Selain matahari bersinar terik, tenaga yang ada juga sudah menipis. Jadi ketika melewati sebuah tanjakan kecil saja saya merasakan sangat berat, padahal biasanya tanjakan seperti ini bisa saya lewati dengan cepat dan tidak terlalu capek. Untungnya perjalanan pulang ini sebagian besar kondisi jalannya adalah menurun. Kurang lebih 3 jam perjalanan pulang saya dan ketika melihat jam sudah menunjukkan jam 16.15 wib. Oya, karena saya meminjam jersey Koskas milik Reth yang lengannya lebih pendek, membuat bekas belang di tangan saya hehe. Terima kasih Reth 🙂 Selanjutnya mau gowes kemana lagi ya……………….

Belang

Iklan