Tag

, , , , , , ,

20160208_160427xx

Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi

Rencana perjalanan ke Manado sebenarnya akan saya lakukan di liburan panjang minggu pertama bulan Mei 2016. Tapi, karena ada kabar kalau salah satu kawan kuliah yang kebetulan saat ini tinggal di Samarinda akan menikah di antara tanggal merah itu, jadi perjalanan ke Manado saya majukan di liburan imlek tanggal 6–8 februari 2016. Mengapa saya ingin ke Manado, pertama karena ada penerbangan langsung dari Balikpapan, yang kedua kebetulan ada kawan sewaktu kuliah yang sedang penempatan kerja di sana, dan yang ketiga saya ingin tahu suasana kota Manado.

Pesawat ke Manado berangkat tepat waktu pukul 21.10 wita hari Jumat tanggal 5 Februari dari bandara Sepinggan Balikpapan. Di Bandara Sam Ratulangi saya dijemput Adit, teman sejak kuliah yang sedang penempatan kerja di sini. Adit memegang kendali kemudi mobil, sedangkan yang duduk di samping adalah ayahnya sebagai co-driver, saya duduk di belakang dengan harap cemas karena baru beberapa minggu ini Adit mulai berlatih kembali menyetir mobil. Jarak dari bandara ke kos Adit cukup jauh, di perjalanan sempat melihat pembangunan interchange ring road yang di kanan kirinya berjejer tinggi tebing tanah yang masih ada bekas kerukan dari lengan mesin bego.

Tiba di kos kita tidak langsung istirahat, masih melanjutkan mengobrol sambil menikmati roti durian yang saya bawa sampai sekitar pukul 02.00 wita.

Sabtu, 6 Februari 2016

Saya baru bisa mulai jalan-jalan ke kota di siang hari, sambil menemani atasan Adit belanja gadget baru di IT Center. Kebetulan hari Sabtu ini adalah hari pertama pemberlakuan jalur searah di sejumlah ruas jalan pusat kota Manado. Jadi suasana jalananan sangat padat karena mungkin masyarakat kota Manado masih bingung dengan kebijakan baru ini dan kebetulan jam pulang sekolah lalu banyak tempat belanja yang ramai menjelang long weekend.

Sinar matahari yang sangat terik membuat tidak betah berada di luar ruangan terus apalagi sempat dorong motor karena rantai putus, kita segera kembali ke kos sambil menunggu sore mau lihat sunset di pantai Malalayang. Pukul 17.30 wita kita baru keluar kos sebetulnya cukup terlambat kalau mau mengejar sunset karena setelah lihat rute di google map, jaraknya sekitar 10 km. Cukup jauh juga. Kali ini saya yang pegang setir dengan melewati jalan yang Adit juga belum pernah lewati. Kondisi jalan di bagian lain kota Manado ini agak sempit dan penuh tanjakan maupun turunan, namun di kanan kiri jalan ini rindang dengan pepohonan.

Pantai Malalayang ini tidak berpasir, jadi hanya dibatasi dinding beton lalu di seberang sudah laut dengan pemandangan pulau Manado Tua dan di sebelah kanan saya bisa melihat cahaya lampu-lampu dari kota Manado. Lalu di sisi daratan banyak berjejer warung-warung, tempat asik buat ngobrol dengan teman maupun sahabat membicarakan masa lalu hingga masa depan. Tidak terasa hampir 2 jam disini, sebelum balik kos saya kembali keliling kota Manado, melewati daerah pecinannya karena banyak kelenteng lalu melewati jembatan Soekarno, landmark baru kota Manado.

20160206_175400xx

Pantai Malalayang

Minggu, 7 Februari 2016

Hari ini rencana seharian akan ke pulau Bunaken bersama kawan-kawan Adit. Pukul 09.00 wita kita telah tiba di pelabuhan Marina, namun semua kapal sudah dipesan. Masih ada satu kapal jenis long boat yang bisa memuat hingga 25 orang tapi pengelola minta ongkos sewa Rp1.700.000. Terlalu mahal jika dibagi 7 orang saja. Ketika sedang berdiskusi mencari alternatif tujuan wisata lain apabila tidak ada tambahan rombongan lagi yang akan ke Bunaken, kita diberitahu pengelola kalau ada 2 grup yang baru saja berkumpul ingin ke bunaken juga. Lalu kita bergabung menjadi satu kapal, total ada 20 orang dengan masing-masing kena share cost Rp100.000. Setelah dihitung-hitung pengelola kapal tetap menang banyak haha…

Perjalanan menuju pulau Bunaken ditempuh sekitar 45 menit, tidak terlalu jauh dan sebetulnya pulau Bunaken masih bisa terlihat dari kota Manado. Setelah sampai rombongan disambut hewan bintang laut di tepian pantai. Di darat saya sewa wet suit, alat snorkeling, dan jasa foto bawah laut. Total semua share cost jadi Rp175.000 per orang, tidak semua rombongan ada yang turun ke laut. Biaya yang masih saya ingat dari masing-masing biaya tersebut hanya jasa foto sebesar Rp300.000. Rombongan lalu di ajak ke spot snorkling yang tidak jauh dari dermaga. Pemandangan bawah laut yang berkesan buat saya adalah melihat tebing curam yang dalam. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain naik ke boat, saya mengobrol dengan pemandu rombongan. Kata pemandu sebetulnya masih ada spot snorkeling dengan pemandangan bawah laut yang istimewa, namun spot ini sangat dijaga oleh warga Bunaken karena disini masih banyak karang hidup dan yang bisa kesini paling tidak wisatawan sudah bisa berenang. Mereka takut jika karang tersebut terinjak oleh wisatawan yang belum mahir berenang sehingga akan mati.

Rombongan kembali ke dermaga mengembalikan wet suit, dan mencari cendera mata. Kekurangan disini menurut saya adalah variasi menu makanan yang dijual warung-warung mempunyai pilihan yang sangat sedikit, akhirnya saya hanya makan Indomie dan minum kelapa muda. Sebelum kembali ke daratan kota Manado, kami menaiki katamaran, yaitu kapal yang dibagian tengahnya memiliki dasar berdinding kaca, sehingga saya bisa melihat karang-karang, ikan dan sebagian kecil tebing karang.

Sampai di kos saya dan Adit langsung tidur karena semua badan terasa pegal dan capek. Disini ada pelajaran buat saya, yaitu tadi siang saya hanya makan Indomie lalu ketika sudah sampai daratan perut segera tidak diisi namun langsung tidur, bangun-bangun badan jadi terasa tidak enak seperti muncul gejala masuk angin. Ditandai dengan kepala terasa berat, lalu menurunnya konsentrasi seperti ketika ke ATM seharusnya tarik di atm BNI namun malah tarik dari mesin Mandiri yang berada disebelahnya.

Karena besok tidak ada rencana ke arah kota lagi, malam ini saya habiskan jalan-jalan terakhir di kota Manado. Saya mencari oleh-oleh di Grand Merciful Building. Sempat beberapa kali saya bertanya ke orang-orang dimana letak Merciful Building mereka menjawab tidak tahu, tapi kalau ditanya Wanea plaza mereka baru tahu, karena ternyata letaknya berdekatan. Di Manado jangan lupa beli oleh-oleh kue Klappertaart, enak banget.

20160207_135006xxx

Bersama Adit

Senin, 8 Februari 2016

Pagi-pagi sudah dijemput ayahnya Adit untuk keliling kota Tomohon. Kota Tomohon terletak sekitar di atas 700-800 meter di atas permukaan air laut, ditempuh sekitar 1 jam dari kota Manado, jadi saya akan merasakan sejuk ademnya udara pagi. Perjalanan menuju kota Tomohon penuh kelokan dan tanjakan turunan, hampir tidak ada kesempatan untuk menyalip kendaraan di depan. Kota ini sangat sejuk udaranya dan terlihat gunung di sisi kanan maupun kiri. Sebetulnya urutan pertama akan menuju bukit doa namun karena jam operasional baru buka jam 8, maka saya lanjut ke pasar Beriman ingin melihat dan merasakan suasana pasar ekstrim. Ternyata kompleks pasar ekstrimnya tidak seluas yang saya kira dan tidak ramai dengan aneka hewan ekstrimnya. Setelah saya tanya ke orang setempat, pasar ekstrim ramainya di hari Sabtu. Disini saya sempat melihat proses bagaimana menghilangkan nyawa anjing lalu membakar kulitnya dengan tabung gas yang dihubungkan oleh selang dimana diujungnya ada corong yang bisa menyemburkan api berwarna merah bercampur kuning seperti semburan air ketika mencuci mobil.

20160208_074627xx

Petunjuk Arah Pasar Ekstrim

20160208_073356xxx

Menunggu Giliran di Eksekusi

20160208_074105xxx

Sebagian Hewan yang Dipajang di Pasar Ekstrim

Sebelum kembali menuju ke bukit doa saya ke vihara Buddhayana di kelurahan Kakaskasen II, kecamatan Tomohon Utara. Memasuki tempat ini di sebelah kiri saya disambut patung-patung berwarna kuning emas dengan berbagai posisi dan ekspresi yang sepertinya masing-masing memiliki makna tertentu. Sebelum memasuki lebih jauh ke dalam saya mengisi buku tamu, dan memberikan donasi seikhlasnya. Tempat ini sangat tenang, terdengar lagu-lagu doa dan gemericik air di kolam membuat nyaman untuk berdoa dan menenangkan pikiran.

20160208_091926xxx

Vihara Buddhayana di Tomohon

20160208_085635xx

Vihara Buddhayana di Tomohon

20160208_091450xxx

Salah Satu Patung di Vihara Buddhayana

Bukit Doa Mahawu nama lengkapnya. Bukit doa ini merupakan tempat jalan salib umat Katholik, dibuat seolah-olah kita menjelajah masuk ke dalam hutan, pegangan tangga dibuat dari tambang yang sudah hijau berlumut, anak tangga dari batuan yang disusun rapi, ada tanaman hias kolam, dan suara serangga yang akan mengiringi pengunjung selama dalam perjalanan. Perjalanan sekitar 15 menit menuju tujuan akhir dan bisa membakar kalori cukup banyak jika jalan terus tanpa istirahat. Di ujung sebelum memasuki goa Maria, saya memasuki ruang gelap sepi, hampir tidak ada suara luar yang masuk. Sangat hening. Lalu di tengah ruang ada batu persegi panjang horizontal diterangi sinar yang masuk dari lubang diatasnya. Benar-benar magis berada di dalam ruangan ini, ruangan ini menggambarkan tempat tubuh Yesus dibaringkan. Melanjutkan perjalanan saya melihat gua maria lalu ada amphiteatre, dan kapel yang dibelakangnya ada pemandangan gunung Lokon. Teduh dan keren tempat ini.

Sebetulnya saya masih ingin melanjutkan ke Tondano, dan bukit kasih namun melihat waktu tidak akan cukup karena siangnya saya harus sudah ada di bandara harus kembali ke tanah borneo lagi. Terima kasih saya ucapkan kepada Adit dan keluarga. Terima kasih Manado.

20160208_095857xxx

Jalan di Bukit Doa

20160208_102120xxx.jpg

Papan Petunjuk Jarak di Bukit Doa Tomohon

20160208_102241xx

Amphiteatre di Bukit Doa Tomohon

WP_20160208_10_28_54_Pro_LIxxx.jpg

Chapel of Mother Mary di Bukit Doa Tomohon

Iklan